Cerpen Dewasa

KISAH YANG USAI by Ridho Masela

Kisah Yang Usai

Sang surya muncul dari ufuk Timur pagi ini. Kaca jendela kamar kost masih basah oleh embun, suasana dingin menyergapku sampai menusuk tulang kurusku. Pagi ini rasanya malas sekali beranjak dari tempat tidurku dan pergi ke kantor. Kalau tidak, pasti dibangunin paksa sama teman sebelah kamar, dasar sialan tuh anak. Batinku berkata bakalan kebablasan bangun sampai siang. Seperti biasanya supir kantor mengantarku ke Menara BCA yang cukup terkenal di Jakarta. Sesampainya di gerbang cepat-cepat aku berlari menuju ruangan. Aku mengumpat “Huh, masih harus naik  litf dimana lantai 51 jadi sasaran, bakalan terlambat nih!” Sesampainya di pintu kantor, ternyata Ci Aiping sudah finger fring duluan. Bu Ross yang melihatku dari dalam ruangan langsung menutup pintu dan tidak memperbolehkanku masuk ruang meeting. Dengan langkah lunglai aku duduk di bangku ruanganku dan menunggu sampai meeting selesai. “Aduh, sial banget sih aku hari ini..! Harusnya tadi gak usah pake acara sarapan dulu dikost,” aku memaki diriku sendiri. Tak lama kemudian dari kejauhan aku melihat seorang anak gadis berlari-lari. Kutajamkan penglihatanku. “Astaga! Itu kan Rubby! Jadi dia telat juga,” teriakku. Rubby adalah teman kantor yang paling cantik dikantorku. Dia itu orangnya nyebelin sekaligus cewek yang kusukai semenjak aku duduk didepannya. Sekarang dia udah berada di depanku. “Bu Ross udah masuk ruang meeting ya?” tanyanya dingin. Aku mengangguk. “Dasar! Mau nanya aja sikapnya udah angkuh begitu” pikirku dalam hati. Dia pun duduk di bangku sebelahku dan menunggu sampai meeting usai. 10 menit kami diam tanpa bicara. Akhirnya aku ngajak dia ngobrol, sekaligus nanya news upadate. Dia kan emang paling jago edit news harian di kantorku. “Eh Rubby, kamu udah edit berita saham IHSG belum? Boleh nanya gak?” tanyaku. “Sudah, lo mau nanya? Sorry ya gue lagi sibuk!” katanya masih bernada dingin. Aku jadi diam. “Huh, sibuk apanya?! Dari tadi juga main hp. Bilang aja gak mau bantuin.” kataku dalam hati. Kami masih duduk sampai meeting usai.

Treiitttt, bunyi pintu terbuka. Bu Ross pun keluar dari ruangan meeting. Aku dan Rubby segera masuk dan duduk ditempat duduk yang biasa kami duduk untuk meeting berikutnya dari Pak Teddy, direktur baru di kantor kami. Angket pun dibagikan untuk diisi. Soal seputar kinerja para karyawan kantorlah. Saat meeting penting pun dia juga nyebelin setengah mati.” Sssst, Rubby. Tunjukkin jawab yang nomor 2 dong,” kataku sambil memohon. “Nomor 2? Masa nomor 2 aja lo gak tau sih. Pasti lo gak merhatiin omongan Pak Teddy bahas tadi ya? Lo cari aja di catatan! Salah lo sendiri gak merhatiin,” bukannya ngasih tau, dia malah marah-marah. Aku udah kesel banget. Sampai saat waktunya usai pun aku masih kesal dengan Rubby. Saat jalan kaki menuju kantin di luar tower kantor, aku marah” gak jelas. “Ih, salah apa sih aku sama Rubby! Kok dia jahat amat sih. Aku doa’in dia dapat musibah,” kutukku. Eh, gak taunya malah aku yang jatuh. Gara-gara marah marah, aku sampai gak ngeliat parit yang cukup dalam didepanku. Duh! Rasanya sakit banget. Gak kuat berdiri. Mana gak ada orang lagi buat dimintai tolong. “Heh! Mau berapa lama lo diem disitu,” kulihat arah suara itu berasal. Ternyata…Rubby! “Bisa berdiri gak?” tanyanya. Berusaha kugerakkan kakiku, rasanya sakit sekali. Ternyata dia mengerti keadaanku langsung memapah tubuhku dan membawaku ke belakang. Aku kaget, baru kali ini aku dibopoh, sama cewek pula! Dan cewek yang kusukai lagi. Mimpi apa aku semalam, meskipun dia nyebelin, tapi gak pernah ngurangi rasa sukaku dengannya. Aku jadi tersenyum sendiri. “Eh, kost lo dimana sih? Dideket sini ya? tanyanya. “Iya, diperumahan sana belok kiri, terus dipertigaan belok kanan. Nyampe deh,” ujarku. “Oh, terus kenapa lo bisa jatoh tadi? dasar bego!” katanya. “Gak kok, tadi cuma kepeleset aja” kataku berbohong. Gak mungkin kan, aku jawab kalo aku jatuh karena mikirin dia. “Rubby, aku mau nanya, kok kamu sentimen sih sama aku tadi saat meeting. Aku kan cuma nannya baik-baik, jawabnya malah ketus begitu. Kan kita bisa jadi temen” kataku. “Soal yang itu gue minta maaf deh. Abis lo sih! Gue tu lagi serius ngerjain soal malah lo ganggu” katanya. “Serius nih? Berarti kita udah temenan kan?” ujarku berseri-seri. “Terserah apa kata lo deh. Nih udah nyampe. Badan lo kecil tapi beratnya minta ampun.” Aku pun nyengir dan cuma bilang makasih dengannya. Dengan jalan terpincang-pincang aku masuk kekost. Hari ini seneng banget!

Semenjak kejadian itu sikap Rubby kepadaku berubah. Kami jadi akrab. Main bareng bareng, jajan bareng, edit berita bareng, tidur pun bareng bareng (ahahalaaa, gak mungkin lah… mimpi doang kaleee). Tapi semenjak sebulan terakhir, Rubby menghindariku dan gak mau main denganku. Sampai suatu hari aku melihatnya bergandengan tangan dengan seorang cowok berkulit putih dan tampan didepan masjid seusai dia sholat jum’at. Hatiku saat itu remuk. Malamnya aku berdoa, “Ya Tuhan, salahkah bila aku tulus mencintainya? Aku tau kami berbeda keyakinan. Tapi aku tak bisa bohong kalau selama ini rasa sayang ini semakin bertambah. Aku mencintainya hanya karenaMu ya Tuhan. Jikalau kami berjodoh nanti, maka dekatkanlah kami” aku berdo’a khusyuk sekali.

Seminggu berlalu Rubby tidak masuk kantor. Kudengar kalau dia masuk rumah sakit. Sorenya langsung ketumui dia di rumah sakit. Aku terkejut melihat kepalanya yang sedikit botak. “Rubby, kamu kok sebulan ini menghindari aku sih? Terus kok bisa dirawat dirumah sakit? Sakit apa?” tanyaku cemas. Kemudian dia memegang tanganku. Aku kaget, tapi tidak kutolak tangannya memegang tanganku. “Roy, gue pengen ngomong jujur ke lo. Sebenarnya gue ngehindarin lo biar bisa ngilangin perasaan suka gue ke lo. Gue sayang sama elo!” Aku kaget bukan main. Jantungku berdegup kencang. Rubby? Suka sama aku? Impossible! “Ah, kamu. Jangan bercanda? Udah sakit masih sempat sempatnya bercanda,” kataku masih tak percaya. “Gak, gue gak sedang bercanda. Gue suka sama lu Roy. Gue ngehindari lo karena kita berbeda keyakinan. Dan gue tau itu salah. Tapi gue gak bisa bohong dan nutupi rasa suka dan sayang gue ke lu. Dan juga sekarang gue kena penyakit kanker otak semenjak gue sd. Gue gak mau nyusahin elo karena penyakit gue ini” katanya. Apa! Rubby kena kanker? Rasanya aku ingin sekali menangis. “Rubb, aku tau kita gak seiman. Aku meyakini Tuhan Yesus sebagai Tuhanku dan kamu meyakini Nabi Muhamad  sebagai Tuhanmu. Tapi hendaknya jikalau kita berjodoh, Tuhan gak bakalan misahain kita dengan penyakitmu ini,” kataku sesegukan. “Roy, udah jangan nangis. Gue gak suka liat lo nangis.” katanya sembari ngusapin air mataku. “Makanya jangan buat aku nangis dong, kamu harus kuat. Rubby yang kukenal adalah cewek kuat dan gak pernah mau kalah,” kataku berusaha tersenyum. “Roy, kamu mau gak nurutin permintaan ku. Satuuuu aja,” pintanya. Aku mengangguk, ini kali pertamanya dia bicara menggunakan aku-kamu. “Tolong kamu ajari aku berdoa buat Tuhan Yesus yang kamu percaya itu, aku tau kita pasti bisa bersama jika kita satu keyakinan. Sekarang umurku udah 28 tahun. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Mama Papa pasti ngijinin aku masuk Kristen. Dan aku mencintaimu hanya karena Tuhan yang kamu sembah” katanya lemah. Aku terkejut karena disaat keadaannya seperti itu dia malah minta diajarin berdoa dan ingin masuk Nasarani. Aku pun membantunya berdiri dan membantunya berdoa dengan Doa Bapa Kami. Lalu mengajarinya berdoa. Setelah itu sayup-sayup kudengar dia mengucapkan doa “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mu-lah yang terjadi.” Aku kaget bukan main. Ternyata dia hafal doa Tuhan Yesus di taman getsemani tanpa kuketahui sebelumnya. Dan disaat itu pula nafasnya berhenti dan meninggalkanku selamanya. Aku menangis sejadi-jadinya. Tapi aku tau, ini sudah jalan hidupnya. Aku tak boleh menyesalinya. Rubby…. adalah cewek pertama yang mengenalkanku apa artinya cinta dan kasih sayang dan kewajibanku sebagai seorang kristen.

TAMAT

2 thoughts on “Cerpen Dewasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s