SELAMAT TINGGAL KAPABILITAS, AKSEPTABILITAS, ELEKTABILITAS

PENGGUNAAN BAHASA ASING YANG SALAH MENJELANG PEMILU 2014
Oleh Ridho Masela

Menjelang musim pemilu 2014 ini, sejumlah isitilah asing yang menyerbu kita tanpa pertimbangan padanan Indonesianya. Baru-baru ini, dalam sekali pukul, Presiden Yudhoyono secara “rombongan’ menggunakan istilah-istilah yang dipinjam dari bahasa Inggris – kapabilitas, kompetensi, akseptabilitas, loyalitas.

Kapabilitas. Haruskah kita memakai istilah itu? Tampaknya ada kencendrungan di kalangan masyarakat untuk meminjam kata benda dalam bahasa inggris yang berakhiran “ty” atau “ity” ke dalam bahasa Indonesia dengan cara menerjemahkan kedua akhiran itu menjadi “tas.” Demikianlah, “capability” menjadi “kapabilitas” dan “acceptability” menjadi “akseptabilitas.” Menurut saya, ini pertanda kemalasan berbahasa (hampir saja, agak nampak keren, saya membubuhkan susunan “linguistic laziness” seperti kebiasaan penulis kita).

Saya bukanlah seoarang ahli bahasa. Tetapi, dengan akal sehat biasa, saya tau bahwa kaidah dasar dalam berbahasa adalah usahakan memakai istilah dalam bahasa sendiri selama itu masih dimungkinkan. Meminjam istilah asing hanyalah diperlukan ketika dalam keadaan (saya hampir saja memakai istilah situasi, pinjaman dari kata “situation”) darurat (ini juga istilah Arab; sebaiknya saya katakana “terdesak,” meskipun kata “darurat” dalam bahasa Arab lebih tepat diterjemahkan sebagai “berbahaya”  tetapi akan lucu kalau saya katakan, boleh meminjam istilah asing “distress” hanya dalam “keadaan berbahaya”).

Seandainya istilah “kapabilitas” diganti dengan “kemampuan,” tentu akan lebih baik. Tidak ada makna yang hilang di sana. Kapabilitas dan kemampuan berbanding secara makna, dan karena itu, menurut saya yang bukan ahli bahasa ini, tidak ada alasan untuk memakai istilah yang berasal dari bahasa Inggris itu dan meninggalkan padanan Indonesianya.

Bagaimana dengan kedua istilah berikut ini: kapabilitas dan kompetensi? Tampaknya memang dua istilah itu memiliki pengertian yang nyaris serupa meskipun tidak sama. Ada beda-halus (ini saya pakai sebagai terjemahan dari istilah “nuance” dalam bahasa Inggris) antara keduanya. Saya mengusulkan “kebisaan” untuk “kapabilitas” dan “kemampuan” untuk “kompetensi.” Terserah kepada para ahli bahasa, usulan ini masuk akal atau tidak, atau mungkin ada usulan lain yang lebih baik. Yang penting, bagi saya, ada kemungkinan memakai padanan Indonesia untuk dua istilah itu.

Kata loyalitas memang bisa diganti dengan “ketaatan.” Tetapi, ditelinga kita, kata “ketaatan” terlalu dibebani oleh makna yang entah berbau feodal atau agama. Memang agaknya kurang tepat jika kata loyalitas diganti dengan ketaatan. Bagaimana kalau kita coba “kesetiaan”? saya kira beban dalam kata “kesetiaan” lebih ringan ketimbang kata ketaatan.

Istilah lain adalah “akseptabilitas.” Lagi-lagi, ini adalah istilah salin-rekat (ini adalah terjemahan dari istilah “copy-paste” yang akhir-akhir ini juga mulai luas dipakai dalam versi Inggrisnya langsung) dari kata “acceptability.” Kenapa tidak memakai istilah Indonesia saja : keterterimaan, kecocokan, kepantasan, misalnya? Saya kira istilah “kecocokan” jauh lebih tepat dipakai di sini.

Kalau ini semua diterima, mungkin saya akan usulkan kepada Presiden Yudhoyono untuk mulai memberikan contoh memakai bahasa sendiri dan pelan-pelan membuang jauh-jauh kebiasaan memakai isitilah asing. (hahahaha – biar kelihatan santai, beta [baca saya – bahasa Ambon] tertawa sedikit). Oleh karena itu, saat mengemukakan kembali syarat-syarat untuk siapapun yang akan mendaftar menjadi calon presiden, calon wakil presiden, calon gubernur dan calon wakil gubernur, Presiden Yudhoyono hendaknya, sekali lagi mohon hendaknya,  memakai istilah ini: kebiasaan, kemampuan, kecocokan dan kesetiaan, tidak lagi kapabilitas, kompetensi, akseptabilitas dan loyalitas.

Ada kata lain yang tidak dipakai Presiden Yudhoyono, tetapi oleh sejumlah lembaga survey (saya masih menerima istilah ini, sebab kalau saya katakana “lembaga penyelidikan” agaknya menjadi sangat menakutkan; tetapi boleh juga dicoba “lembaga peninjauan” atau “lembaga peninjau”). Istilah itu adalah elektabilitas, terjemahan langsung dari “electability.” Terus terang, penggunaan istilah ini sangat mengganggu para ahli bahasa.

Istilah “elektabilitas” mengingatkan saya pada kata “elek” dalam bahasa Jawa yang artinya “buruk sekali” (setara dengan istilah “ugly” dalam bahasa Inggris). Saya tidak tahu padanan yang tepat untuk kata ini. Mungkin “keterpilihan”? saya kira itu bisa dicoba.

Ini semua tidak berarti saya anti bahasa asing. Saya tentu menghendaki bangsa Indonesia bisa berbahasa Inggris dengan baik, sebab itu bahasa pergaulan internasional saat ini. Tetapi, kalau sedang berbahasa Indonesia, silahkan memakai bahasa itu dengan baik. Jika mau berbahasa Inggris, silahkan memakai bahasa itu dengan baik pula.

Yang kurang senonoh adalah manakala kita malas dan memindahkan begitu saja berkarung-karung istilah dalam bahasa Inggris tanpa mau berlelah-lelah dahulu untuk mencari padanannya dalam bahasa sendiri.

Selamat tinggal kapabilitas, akseptabilitas, elektabilitas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s